traveling, backpacking, living

Sabtu, 18 Februari 2017

Menembus Bekunya Gulmarg dengan Skuter

Gulmarg! Sebuah tempat dengan pemandangan yang indah dan salju abadinya bercampur dengan hangatnya watak para Kashmiri (sebutan bagi orang-orang Kashmir)
Salju…! Itulah kata pertama yang ada dibenakku saat mendengar nama Gulmarg. Sebuah tempat dengan pemandangan yang indah dan salju abadinya bercampur dengan hangatnya watak para Kashmiri (sebutan bagi orang-orang Kashmir). Mengunjungi Gulmarg di musim dingin seperti ini bukan perkara mudah bagiku, orang Indonesia yang biasa hidup di iklim tropis. Terlebih hanya dengan mengendarai skuter matic.

Bahkan Shakeel, seorang warga lokal yang menemaniku sempat menyampaikan keraguannya. Lelaki dengan postur sedang dan pendiam inipun mempertanyakan ideku naik skuter miliknya dari kediamannya di Srinagar menuju Gulmarg. Terlalu dingin katanya, apalagi skuternya ber-CC kecil, sama persis dengan skuter di Jakarta, bisa-bisa mati beku di motor nanti. Hahaha… Tapi ini dia yang kucari, sebuah tantangan yang orang lokal pun ragu untuk mencobanya.

Tepat jam delapan pagi kami bangun, tanpa mandi karena suhu beku. Kami bergegas untuk sarapan, ternyata warung dan restoran belum pada buka sepagi itu di musim dingin. Akhirnya kami memutuskan untuk sarapan ditengah perjalanan saja. Informasi dari Shakeel menyebutkan ada warung untuk sarapan enak di pasar kecil di jalan menuju Gulmarg.

Tiga puluh menit menaiki sepeda motor, sampailah kami di warung itu. Kami pun memesan omelette dan roti chapatti yang ukurannya sebesar piring makan, lengkap dengan sambal khasnya dan chai. Sangat lezat! Terlebih harganya murah sekali.





Setelah terasa kenyang, kami melanjutkan perjalanan ke Gulmarg. Empat puluh lima menit berselang, perjalanan mulai melewati area gunung yang menanjak. Terjadilah apa yang ditakutkan Shakeel. Ya, kami sukses membeku diterpa angin di suhu minus! Dagu dan kaki kami sudah mati rasa, karena itu kami putuskan untuk menghangatkan badan sejenak di sebuah warung kecil sambil memesan kopi dan biskuit.


“Tuh beku, kan? ” Shakeel membuka suara sejenak setelah meminum kopinya.

“Hahah… Iya. Beku nih. Rahang masih gemetar,” jawabku di tengah gigi yang beradu menahan dingin. Aku tertawa. Dia pun balik menertawakanku.

Namun justru dengan itulah aku merasakan sensasi perjalanan yang luar biasa. Dan pada akhirnya, kami tetap saja memacu gas sepeda motor dengan kencangnya demi mencapai Gulmarg.

Dibalik perasaan kami yang teramat perkasa dan tidak ingin menyiutkan nyali di tengah kebekuan, ternyata ada kekonyolan dan kenekatan di mata orang lain. Bayangkan saja, tak satu pun selama perjalanan menuju Gulmarg kami menemukan orang mengendarai sepeda motor. Orangorang yang berpapasan dengan kami dengan mengendarai mobil, kulihat bengong melihat tingkah polah kami berdua. Hanya kami lah yang berani! Memang tipis perbedaan antara berani dan nekat itu, saudarasaudara. Hahaha…

Cuma dengan menaiki skuter inilah aku benar-benar menikmati perjalanan ke Gulmarg. Sangat terasa sekali petualangannya. Kami bisa berhenti di manapun, mengambil gambar hamparan padang rumput hijau, sawah berlatar pegunungan salju, serta menikmati pemandangannya yang sangat indah. Jujur, ini tak akan bisa kudapat kalau aku mengendarai mobil.

Sekitar dua jam setelah kami menempuh perjalanan menerobos dinginnya udara Kashmir, akhirnya kami berhasil mencapai Gulmarg. Kondisi badan kami bukan tambah membaik, melainkan sebaliknya. Suhu di daerah tinggi Gulmarg sangat rendah, membuat kami semakin terasa tersiksa.

Sesaat setelah memarkir sepeda motor, kami langsung pergi ke warung terdekat untuk memesan teh hangat sambil menempelkan badanku ke tempat memasak air. Fiuhhh… asli badanku sangat terasa beku. Proses memanaskan badan ini kulalui sembari bercengkrama dengan Shakeel, tak terasa waktu sudah menunjukkan jam satu siang. Sudah saatnya aku naik keatas dan membeli tiket untuk menaiki Gondola tertinggi di dunia. Konter tiket tak berapa jauh, hanya berkisar perjalanan lima menit saja dengan jalan kaki. Dalam proses mendapatkan tiket ini semuanya berjalan lancar, terlebih keperluanku hanya untuk mencetak tiket saja, karena tiket sudah kubeli jauh-jauh hari dari Jakarta.

Untuk mencetak tiket Gondola tersebut aku dibantu oleh seorang penduduk lokal Gulmarg bernama Naseer. Bukan hanya itu, Naseer yang belakangan kuketahui sebagai mahasiswa program pasca sarjana ini pun akan menemani kami menaiki Gondola sebagai guide yang akan menjelaskan secara detil kondisi Gulmarg dan keindahan alamnya.

Naseer sendiri seperti kebanyakan Kashmiri umumnya, ramah, hangat diajak bicara, serta menyimpan kebaikan yang tulus dibalik paras mereka yang umumnya rupawan. Terlebih bila kita telah dianggapnya sebagai bagian dari saudara mereka, maka pelayanan terbaik pun akan diberikan secara cuma-cuma tentunya.

Sampai di fase satu, kami keluar dari dalam Gondola. Sungguh rasa takjub kembali membuncah dalam hatiku, menyaksikan segala keindahan yang tersaji di hadapanku. Hamparan gunung salju membentang. Memutih. Aku teramat menikmatinya sambil mendengarkan Naseer menjelaskan setiap sudut Gulmarg yang terhampar memikat. Meski warna putih salju begitu dominan, namun ada juga landscape padang rumput yang luas, pepohonan pinus yang tinggi, berbaris rapi memanjakan mata.


Pada fase satu ini aku tak hanya melihat pemandangan yang indah, namun juga berbagai aktivitas para pengunjung lainnya. Ada yang bermain ski di ujung sebelah kiri, ada yang bermain lempar salju. Sementara kami tetap berjalan hingga Naseer berhenti di sebuah mata air alami Himalaya. Ia mengatakan mata air ini mengeluarkan air yang tetap hangat meskipun suhu dalam kondisi minus. Ia mengajakku untuk minum langsung dari mata air tersebut. Masya Allah…. ternyata benar, airnya sangat segar dan hangat. Aku bahkan meminumnya sampai tiga kali.

Setelah menikmati hangatnya mata air alami, Naseer mengajakku untuk menyambangi sebuah warung. Kami memesan teh sembari menghangatkan badan dan berbicara menikmati pemandangan di fase satu sebelum melanjutkan perjalanan ke fase berikutnya


Kami kembali ke stasiun Gondola supaya bisa melanjutkan perjalanan ke fase dua. Naseer mengatakan sebelumnya, bahwa di fase ini aku akan menemukan sebuah pemandangan yang teramat luar biasa. Pemandangan yang tersaji dari salah satu “Atap Dunia”, satu hal yang membuatku semakin tak sabar untuk menunggu.


Memasuki ketinggian 10.000 kaki aku merasakan oksigen mulai menipis. Aliran darah terasa seperti mengalir dari kepala ke kaki. Namun itu semua tergantikan dengan pemandangan yang luar biasa. Apalagi ketika Gondola berhenti di ketinggian 14.000 kaki. Puncak Apparwath namanya. Kami keluar dan hanya satu kata yang dapat kuucapkan, “Allahu Akbar!” Teriring segala puji atas pemandangan yang terbentang sangat indah di hadapanku kala itu. Keindahan yang mustahil diciptakan oleh tangan-tangan manusia. Sebuah keindahan yang membuatku semakin merasa kecil di hadapan Sang Pencipta




Aku benar-benar merasa berada di atap dunia. Awan-awan putih berarak di sekelilingku. Sungguh indah tak terbilang. Saking bahagianya menyaksikan keindahan dari Puncak Apparwath, aku sampai bergulingguling di atas salju, hingga lupa bahwa kondisi cuaca teramat dingin bagi tubuh tropisku.

Aku berikan handphone-ku kepada Naseer untuk mengabadikan kesempatan ini lewat video. Ya, aku hanya ingin menikmati pemandangan. Bukan bermain ski atau apapun. Namun demikian, di tengah segenap keindahan yang ada, justru aku banyak menyelipkan doa-doa. Untuk sebuah harapan bahwa suatu saat dapat kembali ke tanah ini bersama orang-orang yang kucintai, serta kembali bertemu dengan para Kashmiri yang luar biasa ini tentunya.

Waktu bergulir terlalu cepat rasanya ketika Naseer mengajakku kembali ke bawah. Tapi kupikir juga sudah cukup rasanya menikmati keindahan Gulmarg, apalagi melihat cuaca yang kembali tidak bersahabat.

Gondola yang kutumpangi berhenti di stasiun bawah. Aku melihat Shakeel sudah menunggu. Namun Naseer sepertinya masih ingin menunjukan sesuatu kepada kami. Ia pun mengajak kami mengelilingi golf course. Di sana pemandangannya juga tak kalah menarik. Di tengah-tengah padang golf itu nampak sebuah gereja tua yang konon sudah berumur 120 tahun. Meski hanya berbentuk sebuah rumah gubuk kayu kecil di tengah padang rumput yang luas, namun justru keberadaannya menggenapi eksotisme panorama yang ada.



Aku pun menyempatkan diri untuk berfoto. Tak lama kemudian, kami kembali ke tempat parkir sepeda motor. Kulihat jam sudah menunjukan pukul setengah empat sore. Tibalah masaku berpamitan kepada Naseer. Lelaki luar biasa yang akan tetap kukenang. Seorang mahasiswa S2 yang mencari tambahan biaya kuliah dengan menjadi seorang tour guide. Luar biasa mulia usahanya!

Padanya aku berjanji untuk membantu lewat cerita yang aku tulis ini, aku berjanji akan mempromosikan Gulmarg dan dia kepada teman-temanku di Indonesia. Ia pun berjanji akan memberikan servis terbaiknya kalau bertemu dengan orang Indonesia di sana.

Ia mengatakan, bila suatu saat kelak aku kembali ke Kashmir dengan siapa saja, aku tak tak boleh bermalam di hotel, melainkan harus menginap dirumah nya. ia berjanji akan memasakkan menu spesial buatku, khusus. Sebuah masakan yang akan diracik dengan tangannya sendiri. Itulah ciri khas Kashmiri. Salah satu karakter terbaik yang selalu mendapatkan tempat di hati para pengunjungnya. Tentu saja, aku pun merindukannya…

Usai berpamitan, aku dan Shakeel mengisi perut di restoran terdekat. Kami mendapati menu chicken curry dengan porsi jumbo yang sangat lezat. Tentu saja, chicken curry di Kashmir ini mirip dengan gulai ayam di Jakarta, hanya saja kuahnya lebih kental dan bumbu rempahnya lebih terasa. Tanpa terasa porsi yang sedemikian besar itu kami libas habis tak tersisa!

Usai menyantap lezatnya chicken curry, jarum jam sudah menunjukan pukul setengah lima. Kami bergegas pulang. Sementara gerimis mulai turun diiringi suhu udara yang semakin merendah. Kami memacu sepeda motor menembus dingin yang semakin menyiksa tubuh kami. Sesekali kami mengambil waktu untuk berhenti sekedar untuk membeli jagung bakar atau minum teh demi menghangatkan badan. Hingga pada akhirnya sampai juga kami di rumah Shakeel di Srinagar.

Kebekuan yang kualami dalam perjalanan ke Gulmarg adalah hal yang tak ternilai dan tak terlupakan. Mau mencoba, sahabat? Aku jamin kamu bakal mendapatkan pengalaman yang hebat dan luar biasa at least once in a lifetime! See you soon, Gulmarg!

Sekembalinya dari Gulmarg, Shakeel memintaku untuk tidur di rumahnya dari pada tidur di hotel. Dengan senang hati aku menyetujui setelah kutanyakan bahwa ia tidak merasa direpotkan dengan keberadaanku.

Sekali lagi, itulah kebaikan ala Kashmiri. Aku sungguh terkesan dengan kehangatan keluarga Shakeel. Mereka menyambutku layaknya keluarga mereka sendiri. Sebuah sambutan yang kuharapkan bisa kudapat juga di tempat-tempat lain saat aku mengembara kelak. Semoga!



          Bertemu  “Malaikat”  di Pahalgam

Aku merasakan kebahagiaan yang meluap. Lagi-lagi bertemu dengan malaikat penolong di Kashmir. Aku melihat pemilik warung kopi itu memasak dua tusuk sate kambing, lengkap dengan bumbunya yang wangi. Tak lupa ia pun membuat roti chapatti untukku

Setelah membeku di Gulmarg, aku berpikir untuk naik Jeep saja ke Pahalgam. Jaraknya sejauh sembilan puluh kilometer dari rumah Shakeel di Srinagar, berarti dua jam lebih perjalanan yang akan kutempuh. Setidaknya ini solusi terbaik buatku demi menghindari kedinginan yang berat selama perjalanan. Apalagi jika hujan turun seperti kemarin, wah, bisa beku seperti balok es nanti.

Dan, kami akhirnya memutuskan untuk naik Jeep. Sepanjang perjalanan yang tak kurang dari 2 jam, mata kami dimanjakan dengan pemandangan yang begitu indah. Warna-warni pepohonan yang asri, sawah, sungai, serta perbukitan berhias putih salju membuatku tak merasa bosan sama sekali melakukan perjalanan ini.

 Selain melewati panorama yang indah, perjalanan kami pun melewati pasar dan terminal yang menimbulkan kemacetan. Kondisi jalan yang tidak begitu lebar sesak dipenuhi para pejalan kaki. Mereka umumnya hanya akan menyingkir setelah mobil, sepeda motor, serta kendaraan lain jaraknya sudah sangat dekat dengan mereka. Itu pun perlu ditambah dengan suara klakson yang membuat telinga terasa sakit, namun itulah Kashmir. Tapi toh kemacetan di Kashmir tetap saja bisa dinikmati seiring dengan para gadis berparas cantik yang berlalu-lalang. Meski tentu saja, untuk menikmati paras cantik mereka hanya dilakukan dengan mencuricuri pandang.

Waktu telah menunjukan jam 3 sore ketika kami sampai di Pahalgam, rencana untuk menikmati keindahan Pahalgam pun terancam gagal karena saat itu hujan turun dengan lebatnya. Hingga Shakeel menyarankan untuk menginap semalam di sekitar Pahalgam. Hal ini dikarenakan tidak mungkin naik kuda ke bukit Pahalgam saat cuaca hujan. Kalaupun ingin kembali lagi ke Srinagar, angkutan umum pun sudah tidak ada pada sore hari.

Shakeel mengatakan bahwa dia mempunyai seorang kenalan baik yang mempunyai vila di dekat Pahalgam Valley. Kami pun langsung berjalan kaki menuju vila tersebut. Nafasku menderu ketika kaki bekerja lebih keras di medan yang menanjak, belum lagi hujan masih deras, membuat langkah kaki kami yang melewati sungai dan perbukitan untuk mencapai vila tidaklah mudah.

Setelah tiga puluh menit berjalan kaki, kami sampai di vila tersebut. Shakeel masuk dan bertanya kepada resepsionis tentang keberadaan temannya. Jawaban Sang resepsionis sangat mengejutkanku, ia mengatakan bahwa temannya Shakeel sedang keluar. Vila ini pun ditutup selama musim dingin karena ada beberapa saluran air yang pecah, serta karenatidak ada turis yang ke sana selama musim dingin.

Duh, kebingungan tiba-tiba melandaku. Terjebak di daerah antah-berantah dengan suhu beku dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi akhirnya Shakeel meminta resepsionis untuk menelpon temannya dan mengatakan bahwa kami menunggunya di vila. And God bless me… teman Shakeel mengatakan akan datang secepatnya.

Menunggu kedatangan teman Shakeel selama tiga puluh menit di suhu beku dan tanpa penghangat memang sangat menyiksa. Hingga kami pun memutuskan pergi ke warung kopi di sebelah vila untuk sekadar menghangatkan badan.

Sialnya, warung sebelah pun ikutan tutup dengan alasan yang sama, “Sedang musim dingin, Mas!” Bersyukur pemilik warung kopi ini bisa kuajak mengobrol.

“Kamu dari mana?” tanyanya.

“Dari Indonesia,” jawabku.

“Oh, negara muslim terbesar di dunia ya?”

“Iya,” aku menjawab sambil kedinginan.

“Kalau begitu kamu duduk saja disini dulu. Saya mau bikin sate kambing. Nanti kamu coba dulu, kalo enak silakan beli. Saya masakin deh khusus buat kamu,” ungkapnya membuatku sangat senang.
Aku merasakan kebahagiaan yang meluap. Lagi-lagi bertemu dengan malaikat penolong di Kashmir. Aku melihat pemilik warung kopi itu memasak dua tusuk sate kambing, lengkap dengan bumbunya yang wangi. Tak lupa ia pun membuat roti chapatti untukku.

Wah, makan sate kambing dan roti chapatti ternyata enak sekali. Terlebih di saat udara dingin yang menusuk seperti ini. Kurang dari dua menit kuhabiskan sudah dua tusuk sate tadi. Bahkan saking enaknya aku pun meminta tambah 10 tusuk lagi. Aku makan seperti orang kalap saja saking enaknya.



Sambil makan aku ngobrol dengan pemilik warung kopi satu ini. Aku ucapkan terima kasih atas kesediaannya memasak khusus buatku dan Shakeel, menemani bercengkrama, bahkan memberikan pemanas sehingga kami tak begitu kedinginan.Aku berjanji pada pemilik warung kopi itu bahwa akan mempromosikan nama warungnya ke teman-teman di Indonesia. Siapa tahu suatu saat kelak ada yang mau berangkat ke Pahalgam.

Oh ya, cobalah untuk makan atau sekedar minum kopi di sana, sudah murah, enak, orangnya baik banget. Apalagi manu sate kambingnya itu maknyuss… juara! Tak lupa, aku pun mengambil beberapa gambar warung serta banner-nya. Semoga bila suatu hari kembali ke Pahalgam, aku masih menemukan orang dan warung yang sama.



Di tengah menyantap lezatnya sate kambing, akhirnya orang yang kami tunggu datang juga. Dialah temannya Shakeel. Sejenak setelah kami berkenalan, aku mulai merasakan keakraban dengannya. Seperti orang Kashmir pada umumnya, ia begitu hangat dan bersahabat. Dan tentu saja, dibalik ciri fisiknya yang tinggi besar serta berjambang lebat bahkan terkesan sangar, para Kashmiri adalah orang-orang murah senyum dengan keramahan serta kebaikan nomor wahid di dunia menurutku.

Setelah selesai makan, kami bertiga pamit menuju ke vilanya. Ia mengatakan akan menyiapkan satu kamar bagus untuk kami. Lagi-lagi rasa syukurku membuncah bisa bertemu “malaikat penolong” di sini.

Benar saja, kami diajak masuk ke sebuah kamar besar yang nyaman dan menghadap ke bukit Pahalgam. Sangat Indah! Sesaat setelah aku duduk di atas kasur, ia datang membawakan teh hangat untuk kami. Bahkan sebelum teh yang disajikannya habis, ia sudah datang lagi membawakan chai dan biskuit. Keramahan dan pelayanan lelaki satu ini membuatku serasa menjadi seorang raja.




Kami bertiga akhirnya duduk bersama untuk berbagi cerita. Ia menceritakan banyak hal tentang Pahalgam dan Kashmir. Hingga tak terasa satu jam kami lalui bersama. Selanjutnya ia meminta izin untuk pergi ke bawah, dan tak lama ia datang lagi membawa nasi lengkap dengan chicken curry buatannya sendiri untuk kami. Melalui pembicaraan kami, ternyata ia ke bawah tadi untuk memasak chicken curry dengan tangannya sendiri. Masya Allah... kebaikan ini rasanya membuatku melihatnya sebagai malaikat berwujud manusia. Tak henti-hentinya ia memberikan pelayanan terbaiknya meski tanpa kami minta. Dan aku berpikir, kebaikan seperti inilah yang tak bisa dinilai dengan uang.

Di malam hari, kami menikmati makan malam bertiga layaknya makan malam keluarga, padahal ia orang yang baru aja aku kenal. Makanan racikan orang Kashmir memang selalu saja enak. Bahkan, aku yang tidak bisa makan banyak pun ikut menambah porsi makan gara-gara ketagihan masakannya.
Selepas makan malam, kami melanjutkan obrolan. Di akhir pembicaraan kami, sang pemilik vila memintaku untuk segera tidur supaya keesokan hari tidak bangun terlambat. Ia pun menyampaikan telah menyiapkan kuda beserta guide-nya untuk mengantarkanku berkeliling Pahalgam. Oh, betapa beruntungnya aku!!

Aku bangun pagi sekali. Namun lagi-lagi kebaikan sudah menyapaku. Chai dan roti chapatti untuk menu sarapanku ternyata sudah hadir terlebih dahulu. Begitupun dengan kuda dan guide-nya. Mereka telah menungguku di depan vila. Luar biasa!

Setelah menyelesaikan sarapan, aku memulai petualanganku di Pahalgam. Kami berjalan menyusuri jembatan dengan kejernihan sungai yang mengalir di bawahnya. Lalu beranjak naik mendaki perbukitan hingga mencapai pemberhentian awal di Kashmir Valley. Dari atas sana aku bisa lihat jelas desa Pahalgam yang indah, tak ketinggalan, aku menyempatkan diri untuk berfoto di atas kuda dengan latar Kashmir Valley.

Setelah jauh perjalanan, mulai terselip rasa heran dalam hatiku. Guide yang menemaniku ternyata sangat kuat berjalan. Sehari sebelumnya, sekadar tiga puluh menit berjalan saja aku sudah merasa sangat letih, namun ia begitu terlihat mudah mendaki perbukitan di Pahalgam ini.

Begitu juga dengan kudanya, medan seterjal itu ia lalui dengan lincahnya tanpa kendala. Justru aku yang merasa panik melihat terjalnya medan jalan yang harus dilalui.



Selanjutnya kami berjalan mendaki bukit. Melewati hutan pinus dengan dedaunannya yang keputihan dihias salju. Naik dan naik terus, hingga akhirnya kami sampai pada sebuah tempat yang dinamakan Mini Switzerland. Sebuah padang rumput dengan hutan pinusnya yang sangat luas dan indah berlatar pegunungan Himalaya yang ditutupi salju. Wow… sangat menakjubkan! Nyaris seperti pemandangan yang kulihat di sekuel film Harry Potter!

Turun dari kuda aku menikmati hijaunya pemandangan di sini. Menyempatkan diri berfoto sebentar lalu mampir ke warung di dekat parkiran kuda untuk minum kopi. Sebuah pemandangan indah lainnya yang disuguhkan oleh desa Pahalgam. Kalau sebelumnya di Gulmarg semua putih oleh salju, hari ini semua hijau oleh rumput dan pepohonan. Ahhh… sungguh Kashmir adalah surga dunia.
Setelah puas di Mini Switzerland, aku lanjut berkuda mengitari bukit Pahalgam dan berhenti di Pahalgam Valley. Padang rumput luas dengan bebatuan yang indah serta sebuah sungai kecil yang membelah di tengahnya membuat kesan tersendiri dalam pandanganku. Aku berhenti sejenak untuk melepas penat. Kulihat juga kuda yang kutunggangi puas makan rumput yang terhampar di Pahalgam Valley.





Kembali aku melihat muka sang guide. Tak ada letih yang terpancar meski pendakian sudah ditempuh sekitar empat jam lamanya. Salut! Jam menunjuk pukul tiga sore dan aku meminta pada sang guide untuk kembali, karena kendaraan umum ke Srinagar akan berangkat pada jam lima sore.
Pukul 3.30 aku sampai di pasar Pahalgam. Shakeel bersama temannya sudah menunggu untuk makan siang. Sebelum berpisah, aku ucapkan terima kasih kepada sang guide atas jasanya mengantarku menikmati “surga dunia”. Jasa yang besar, sehingga aku bisa mendapatkan sensasi keindahan pemandangan Pahalgam dengan berkuda hampir seharian.

Kami pun langsung menuju restoran dan memesan chicken curry. Rasa lapar yang kami rasakan membuat makanan yang disajikan dalam porsi jumbo itu habis tak lebih dari 15 menit saja hahaha...
Usai makan, aku langsung berpamitan kepada temannya Shakeel. Tibalah kebingungan melandaku, berapa uang yang harus kuberikan atas jasa dan fasilitas yang diberikannya itu?

Aku meminta Shakeel untuk bertanya kepada temannya. Sungguh sebuah jawaban yang mencengangkan aku terima. Dia tidak mau menerima uang. Semuanya gratis! What?!

Setelah servis yang begitu hebatnya kepadaku dan Shakeel, tidak mungkin aku tidak memberi uang sedikitpun kepadanya. Akhirnya dari pada ia tidak mau menerima uangku, aku titipkan satu lembar pecahan 1000 rupees kepada Shakeel dan memintanya untuk menyelipkan di kantong sang pemilik vila.

Saat sang pemilik vila lengah, Shakeel langsung menyelipkan uang tadi, meski nilainya tak seberapa dibandingkan dengan jasa dan kebaikannya kepada kami. Saat ia sadar kalau kami selipkan uang, kami langsung kabur naik Jeep hehehe…



Thanks a lot for being our angel, Sir. We will miss you and will be back soon!