traveling, backpacking, living

Jumat, 17 Februari 2017

          Bertemu  “Malaikat”  di Pahalgam

Aku merasakan kebahagiaan yang meluap. Lagi-lagi bertemu dengan malaikat penolong di Kashmir. Aku melihat pemilik warung kopi itu memasak dua tusuk sate kambing, lengkap dengan bumbunya yang wangi. Tak lupa ia pun membuat roti chapatti untukku

Setelah membeku di Gulmarg, aku berpikir untuk naik Jeep saja ke Pahalgam. Jaraknya sejauh sembilan puluh kilometer dari rumah Shakeel di Srinagar, berarti dua jam lebih perjalanan yang akan kutempuh. Setidaknya ini solusi terbaik buatku demi menghindari kedinginan yang berat selama perjalanan. Apalagi jika hujan turun seperti kemarin, wah, bisa beku seperti balok es nanti.

Dan, kami akhirnya memutuskan untuk naik Jeep. Sepanjang perjalanan yang tak kurang dari 2 jam, mata kami dimanjakan dengan pemandangan yang begitu indah. Warna-warni pepohonan yang asri, sawah, sungai, serta perbukitan berhias putih salju membuatku tak merasa bosan sama sekali melakukan perjalanan ini.

 Selain melewati panorama yang indah, perjalanan kami pun melewati pasar dan terminal yang menimbulkan kemacetan. Kondisi jalan yang tidak begitu lebar sesak dipenuhi para pejalan kaki. Mereka umumnya hanya akan menyingkir setelah mobil, sepeda motor, serta kendaraan lain jaraknya sudah sangat dekat dengan mereka. Itu pun perlu ditambah dengan suara klakson yang membuat telinga terasa sakit, namun itulah Kashmir. Tapi toh kemacetan di Kashmir tetap saja bisa dinikmati seiring dengan para gadis berparas cantik yang berlalu-lalang. Meski tentu saja, untuk menikmati paras cantik mereka hanya dilakukan dengan mencuricuri pandang.

Waktu telah menunjukan jam 3 sore ketika kami sampai di Pahalgam, rencana untuk menikmati keindahan Pahalgam pun terancam gagal karena saat itu hujan turun dengan lebatnya. Hingga Shakeel menyarankan untuk menginap semalam di sekitar Pahalgam. Hal ini dikarenakan tidak mungkin naik kuda ke bukit Pahalgam saat cuaca hujan. Kalaupun ingin kembali lagi ke Srinagar, angkutan umum pun sudah tidak ada pada sore hari.

Shakeel mengatakan bahwa dia mempunyai seorang kenalan baik yang mempunyai vila di dekat Pahalgam Valley. Kami pun langsung berjalan kaki menuju vila tersebut. Nafasku menderu ketika kaki bekerja lebih keras di medan yang menanjak, belum lagi hujan masih deras, membuat langkah kaki kami yang melewati sungai dan perbukitan untuk mencapai vila tidaklah mudah.

Setelah tiga puluh menit berjalan kaki, kami sampai di vila tersebut. Shakeel masuk dan bertanya kepada resepsionis tentang keberadaan temannya. Jawaban Sang resepsionis sangat mengejutkanku, ia mengatakan bahwa temannya Shakeel sedang keluar. Vila ini pun ditutup selama musim dingin karena ada beberapa saluran air yang pecah, serta karenatidak ada turis yang ke sana selama musim dingin.

Duh, kebingungan tiba-tiba melandaku. Terjebak di daerah antah-berantah dengan suhu beku dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi akhirnya Shakeel meminta resepsionis untuk menelpon temannya dan mengatakan bahwa kami menunggunya di vila. And God bless me… teman Shakeel mengatakan akan datang secepatnya.

Menunggu kedatangan teman Shakeel selama tiga puluh menit di suhu beku dan tanpa penghangat memang sangat menyiksa. Hingga kami pun memutuskan pergi ke warung kopi di sebelah vila untuk sekadar menghangatkan badan.

Sialnya, warung sebelah pun ikutan tutup dengan alasan yang sama, “Sedang musim dingin, Mas!” Bersyukur pemilik warung kopi ini bisa kuajak mengobrol.

“Kamu dari mana?” tanyanya.

“Dari Indonesia,” jawabku.

“Oh, negara muslim terbesar di dunia ya?”

“Iya,” aku menjawab sambil kedinginan.

“Kalau begitu kamu duduk saja disini dulu. Saya mau bikin sate kambing. Nanti kamu coba dulu, kalo enak silakan beli. Saya masakin deh khusus buat kamu,” ungkapnya membuatku sangat senang.
Aku merasakan kebahagiaan yang meluap. Lagi-lagi bertemu dengan malaikat penolong di Kashmir. Aku melihat pemilik warung kopi itu memasak dua tusuk sate kambing, lengkap dengan bumbunya yang wangi. Tak lupa ia pun membuat roti chapatti untukku.

Wah, makan sate kambing dan roti chapatti ternyata enak sekali. Terlebih di saat udara dingin yang menusuk seperti ini. Kurang dari dua menit kuhabiskan sudah dua tusuk sate tadi. Bahkan saking enaknya aku pun meminta tambah 10 tusuk lagi. Aku makan seperti orang kalap saja saking enaknya.



Sambil makan aku ngobrol dengan pemilik warung kopi satu ini. Aku ucapkan terima kasih atas kesediaannya memasak khusus buatku dan Shakeel, menemani bercengkrama, bahkan memberikan pemanas sehingga kami tak begitu kedinginan.Aku berjanji pada pemilik warung kopi itu bahwa akan mempromosikan nama warungnya ke teman-teman di Indonesia. Siapa tahu suatu saat kelak ada yang mau berangkat ke Pahalgam.

Oh ya, cobalah untuk makan atau sekedar minum kopi di sana, sudah murah, enak, orangnya baik banget. Apalagi manu sate kambingnya itu maknyuss… juara! Tak lupa, aku pun mengambil beberapa gambar warung serta banner-nya. Semoga bila suatu hari kembali ke Pahalgam, aku masih menemukan orang dan warung yang sama.



Di tengah menyantap lezatnya sate kambing, akhirnya orang yang kami tunggu datang juga. Dialah temannya Shakeel. Sejenak setelah kami berkenalan, aku mulai merasakan keakraban dengannya. Seperti orang Kashmir pada umumnya, ia begitu hangat dan bersahabat. Dan tentu saja, dibalik ciri fisiknya yang tinggi besar serta berjambang lebat bahkan terkesan sangar, para Kashmiri adalah orang-orang murah senyum dengan keramahan serta kebaikan nomor wahid di dunia menurutku.

Setelah selesai makan, kami bertiga pamit menuju ke vilanya. Ia mengatakan akan menyiapkan satu kamar bagus untuk kami. Lagi-lagi rasa syukurku membuncah bisa bertemu “malaikat penolong” di sini.

Benar saja, kami diajak masuk ke sebuah kamar besar yang nyaman dan menghadap ke bukit Pahalgam. Sangat Indah! Sesaat setelah aku duduk di atas kasur, ia datang membawakan teh hangat untuk kami. Bahkan sebelum teh yang disajikannya habis, ia sudah datang lagi membawakan chai dan biskuit. Keramahan dan pelayanan lelaki satu ini membuatku serasa menjadi seorang raja.




Kami bertiga akhirnya duduk bersama untuk berbagi cerita. Ia menceritakan banyak hal tentang Pahalgam dan Kashmir. Hingga tak terasa satu jam kami lalui bersama. Selanjutnya ia meminta izin untuk pergi ke bawah, dan tak lama ia datang lagi membawa nasi lengkap dengan chicken curry buatannya sendiri untuk kami. Melalui pembicaraan kami, ternyata ia ke bawah tadi untuk memasak chicken curry dengan tangannya sendiri. Masya Allah... kebaikan ini rasanya membuatku melihatnya sebagai malaikat berwujud manusia. Tak henti-hentinya ia memberikan pelayanan terbaiknya meski tanpa kami minta. Dan aku berpikir, kebaikan seperti inilah yang tak bisa dinilai dengan uang.

Di malam hari, kami menikmati makan malam bertiga layaknya makan malam keluarga, padahal ia orang yang baru aja aku kenal. Makanan racikan orang Kashmir memang selalu saja enak. Bahkan, aku yang tidak bisa makan banyak pun ikut menambah porsi makan gara-gara ketagihan masakannya.
Selepas makan malam, kami melanjutkan obrolan. Di akhir pembicaraan kami, sang pemilik vila memintaku untuk segera tidur supaya keesokan hari tidak bangun terlambat. Ia pun menyampaikan telah menyiapkan kuda beserta guide-nya untuk mengantarkanku berkeliling Pahalgam. Oh, betapa beruntungnya aku!!

Aku bangun pagi sekali. Namun lagi-lagi kebaikan sudah menyapaku. Chai dan roti chapatti untuk menu sarapanku ternyata sudah hadir terlebih dahulu. Begitupun dengan kuda dan guide-nya. Mereka telah menungguku di depan vila. Luar biasa!

Setelah menyelesaikan sarapan, aku memulai petualanganku di Pahalgam. Kami berjalan menyusuri jembatan dengan kejernihan sungai yang mengalir di bawahnya. Lalu beranjak naik mendaki perbukitan hingga mencapai pemberhentian awal di Kashmir Valley. Dari atas sana aku bisa lihat jelas desa Pahalgam yang indah, tak ketinggalan, aku menyempatkan diri untuk berfoto di atas kuda dengan latar Kashmir Valley.

Setelah jauh perjalanan, mulai terselip rasa heran dalam hatiku. Guide yang menemaniku ternyata sangat kuat berjalan. Sehari sebelumnya, sekadar tiga puluh menit berjalan saja aku sudah merasa sangat letih, namun ia begitu terlihat mudah mendaki perbukitan di Pahalgam ini.

Begitu juga dengan kudanya, medan seterjal itu ia lalui dengan lincahnya tanpa kendala. Justru aku yang merasa panik melihat terjalnya medan jalan yang harus dilalui.



Selanjutnya kami berjalan mendaki bukit. Melewati hutan pinus dengan dedaunannya yang keputihan dihias salju. Naik dan naik terus, hingga akhirnya kami sampai pada sebuah tempat yang dinamakan Mini Switzerland. Sebuah padang rumput dengan hutan pinusnya yang sangat luas dan indah berlatar pegunungan Himalaya yang ditutupi salju. Wow… sangat menakjubkan! Nyaris seperti pemandangan yang kulihat di sekuel film Harry Potter!

Turun dari kuda aku menikmati hijaunya pemandangan di sini. Menyempatkan diri berfoto sebentar lalu mampir ke warung di dekat parkiran kuda untuk minum kopi. Sebuah pemandangan indah lainnya yang disuguhkan oleh desa Pahalgam. Kalau sebelumnya di Gulmarg semua putih oleh salju, hari ini semua hijau oleh rumput dan pepohonan. Ahhh… sungguh Kashmir adalah surga dunia.
Setelah puas di Mini Switzerland, aku lanjut berkuda mengitari bukit Pahalgam dan berhenti di Pahalgam Valley. Padang rumput luas dengan bebatuan yang indah serta sebuah sungai kecil yang membelah di tengahnya membuat kesan tersendiri dalam pandanganku. Aku berhenti sejenak untuk melepas penat. Kulihat juga kuda yang kutunggangi puas makan rumput yang terhampar di Pahalgam Valley.





Kembali aku melihat muka sang guide. Tak ada letih yang terpancar meski pendakian sudah ditempuh sekitar empat jam lamanya. Salut! Jam menunjuk pukul tiga sore dan aku meminta pada sang guide untuk kembali, karena kendaraan umum ke Srinagar akan berangkat pada jam lima sore.
Pukul 3.30 aku sampai di pasar Pahalgam. Shakeel bersama temannya sudah menunggu untuk makan siang. Sebelum berpisah, aku ucapkan terima kasih kepada sang guide atas jasanya mengantarku menikmati “surga dunia”. Jasa yang besar, sehingga aku bisa mendapatkan sensasi keindahan pemandangan Pahalgam dengan berkuda hampir seharian.

Kami pun langsung menuju restoran dan memesan chicken curry. Rasa lapar yang kami rasakan membuat makanan yang disajikan dalam porsi jumbo itu habis tak lebih dari 15 menit saja hahaha...
Usai makan, aku langsung berpamitan kepada temannya Shakeel. Tibalah kebingungan melandaku, berapa uang yang harus kuberikan atas jasa dan fasilitas yang diberikannya itu?

Aku meminta Shakeel untuk bertanya kepada temannya. Sungguh sebuah jawaban yang mencengangkan aku terima. Dia tidak mau menerima uang. Semuanya gratis! What?!

Setelah servis yang begitu hebatnya kepadaku dan Shakeel, tidak mungkin aku tidak memberi uang sedikitpun kepadanya. Akhirnya dari pada ia tidak mau menerima uangku, aku titipkan satu lembar pecahan 1000 rupees kepada Shakeel dan memintanya untuk menyelipkan di kantong sang pemilik vila.

Saat sang pemilik vila lengah, Shakeel langsung menyelipkan uang tadi, meski nilainya tak seberapa dibandingkan dengan jasa dan kebaikannya kepada kami. Saat ia sadar kalau kami selipkan uang, kami langsung kabur naik Jeep hehehe…



Thanks a lot for being our angel, Sir. We will miss you and will be back soon!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar