traveling, backpacking, living

Sabtu, 18 Februari 2017

Srinagar, I’m in Love

Semua orang memakai baju terusan seperti gamis besar bak jubah. Setelah aku bertanya-tanya, ternyata itu pakaian khas para Kashmiri saat musim dingin tiba. Fungsinya untuk mengusir rasa dingin yang berlebihan saat di luar rumah

Lima belas menit sebelum mendarat di Bandara Srinagar, kepalaku tak berpaling dari jendela pesawat. Kulihat pemandangan di bawah sana. Pegunungan, hamparan padang rumput, serta sungai yang mengular sejauh mata memandang semakin membuatku tak sabar untuk segera menjejakkan kaki di tanah yang disebut-sebut sebagai “Surga Dunia”.

Belum lagi hilang kekagumanku melihat pemandangan yang terhampar, awak kabin maskapai Spice Jet yang kutumpangi mengumumkan bahwa suhu di Bandara berada pada 5 derajat celcius. Aaah… senang sekali rasanya. Segera kunaikkan sandaran kursi dan berdoa agar pesawat mendarat dengan selamat.


Selepas pesawat mendarat dengan mulus, aku berjalan santai keluar Bandara yang tak begitu besar. Aku segera mengisi sebuah form arrival card yang diberikan pihak otoritas Bandara, lalu bergegas mencari loket taksi. Hal ini kulakukan dengan cepat. Aku khawatir akan lama mengantri karena banyaknya penumpang pesawat yang kembali setelah selesai menunaikan umroh.

Di pintu keluar bandara aku melihat ada yang aneh, kayaknya di sini semua orang memakai baju terusan seperti gamis besar bak jubah. Setelah aku bertanya-tanya, ternyata itu pakaian khas para Kashmiri saat musim dingin tiba. Fungsinya untuk mengusir rasa dingin yang berlebihan saat di luar rumah. Wah, aku harus membelinya untuk dibawa pulang nih, paling tidak satu buah... khas Kashmir gitu lho!

Di sini juga untuk pertama kalinya aku melihat perbedaan orang Kashmir dan India secara umum. Para Kashmiri (sebutan untuk penduduk Kashmir) rata-rata berkulit putih bersih dan tinggi. Wajahnya juga sekelas artis Jakarta semua hahaha... Sifat mereka juga baik, murah senyum dan ramah. Hal ini terbukti saat aku menanyakan letak loket taksi kepada seorang tentara di sana. Tentara itu tidak hanya menunjukan di mana letak loket, tetapi dia juga mengantarkan aku sampai tepat di depan loket taksi tersebut serta membantu memesan tiketnya. Wah, ini berbeda 180 derajat dengan orang-orang di Delhi atau di Kolkata yang ternyata lebih individualis.

Setelah membeli tiket, aku pun langsung menuju hotel tempat aku akan menginap. Di sepanjang perjalanan menuju hotel, masih terlihat jelas bekas banjir di mana-mana. Banjir ini kabarnya yang terbesar dan terparah di Kashmir selama 60 tahun terakhir. 

Akhirnya aku pun sampai di hotel tujuan dan langsung diantar ke kamar. Sesampainya di kamar, aku menaruh semua bawaanku dan kembali ke lobby untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan. Setelah bertanya kepada beberapa orang, ternyata malam itu tidak ada restoran yang buka. Hal ini dikarenakan malam itu adalah salah satu hari besar Islam. Wah, aku bisa mati kelaparan nih!
 Akhirnya aku memutuskan kembali ke hotel dari pada mati kelaparan di tengah suhu beku. Aku teringat di tas bawaanku ada bekal yang diberikan oleh mama sebelum berangkat ke India. Ternyata menunya adalah dendeng balado dan beberapa sachet mie gelas yang malam itu jadi penyelamat perutku. Aku pun dapat tidur dengan lelap dalam hangatnya electric blanket.

Pagi harinya, aku langsung mencari tempat untuk sarapan, dan tak ada satupun warung makanan yang buka sekitar hotel. Akhirnya, aku putuskan untuk berjalan kaki ke area Danau Dal yang jaraknya kurang lebih satu kilometer dari hotel. Belum ada warung makan yang buka. 


Akhirnya aku menghampiri seorang bapak yang menjual cemilan, sambil berjalan mencari Pak Nizam. Beliau adalah seorang pemilik Shikara yang baik hati yang direferensikan oleh Om Yoli Hemdi untuk kutemui jika ingin bertanya tentang Kashmir. Pak Nizam juga akan memberikan tarif spesial untuk turis dari Indonesia yang ingin mengitari Danau Dal dengan Shikaranya. Ternyata setelah berkeliling selama hampir 5 jam aku tidak menemukan keberadaan Pak Nizam. Sampai akhirnya aku menunjukan foto Pak Nizam pada seorang tukang ojek yang mengaku mengenalnya dan bersedia mengantar aku ke tempat beliau tinggal. 
Aku pun sampai di rumah yang dituju, namun ternyata Pak Nizam tidak ada di rumah. Aku bertemu dengan adiknya yang bernama Shakeel. Setelah berkenalan, Shakeel pun mengajak aku masuk ke dalam rumahnya untuk menunggu Pak Nizam sambil menyuguhkan roti dan secangkir teh khas Kashmir. Setelah satu jam menunggu dan mengobrol dengan Shakeel, ternyata Pak Nizam tak juga kunjung datang. Akhirnya Shakeel memutuskan bersedia menemaniku mengililingi danau Dal dengan Shikara miliknya. Shakeel pun membawa peralatan Shikara dan tidak lupa sekotak pakaian Raja Kashmir zaman dahulu dan sebuah kamera untuk mengabadikan moment di tengah danau nanti.


Kami berangkat dan mengitari sudut Danau Dal yang tenang ditemani udara sejuk. Sangat indah dan nyaman rasanya berada di tengah danau ini. Tak lupa kami membeli beberapa cemilan dan minuman kaleng yang juga dijual di tengah danau. Dan setelah menemukan beberapa spot bagus, Shakeel pun memintaku untuk memakai pakaian raja yang tadi dibawanya dan bersiap untuk difoto. Wah, seperti Raja Kashmir beneran rasanya.

Setelah puas mengelilingi danau dan berfoto kami kembali ke Dal Gate untuk makan siang. Setidaknya kami tetap makan siang walau pun waktu sudah menunjukan pukul empat sore. Kami pun segera mencari restoran bernama Rock View yang juga direferensikan oleh Om Yoli Hemdi karena masakannya yang enak, murah, dan pemiliknya yang sangat ramah. 

Setelah berjalan kaki 15 menit, kami sampai di restoran Rock View dan bertemu dengan pemiliknya yang bernama Shaabir. Ia langsung menyambut kami dengan hangat dan mempersilahkan duduk, serta langsung menghidangkan segelas Chai, teh susu khas Kashmir. Di sana kami makan kari kambing spesial dengan lahap. Setelah makanan habis, aku ditemani Shabir ngobrol dan bercerita tentang apa tujuan untuk besok. Akhirnya Shakeel mau menemaniku ke Gulmarg besok pagi.


Sekembalinya dari Gulmarg, Shakeel mengatakan bahwa aku lebih baik tidur di rumahnya dari pada di hotel, dan aku pun menerima dengan senang hati asalkan tidak merepotkannya. Shakeel senang sekali karena aku bersedia menginap di rumahnya. Kami pun berangkat ke rumah Shakeel untuk beristirahat dan mempersiapkan fisik untuk perjalanan besok pagi ke Pahalgam. Benar saja, ternyata rumah Shakeel jauh lebih nyaman dan hangat, apalagi sambutan keluarganya yang sangat welcome padaku. 

Sekembalinya dari Pahalgam, kami singgah ke restoran Shabir untuk makan malam. Menu malam itu adalah gulai torpedo kambing yang sangat enak. Setelah beberapa lama mengobrol, Shabir mengajakku menginap di rumahnya serta menawarkan untuk mengelilingi Srinagar esok hari, memancing dan menginap di houseboat milik keluarganya. Gratis! What a lucky me!

Akhirnya kami menuju rumah Shabir dan aku berkenalan dengan anak, isteri, ayah, ibu, dan adiknya. Semua menyambutku dengan senyum hangat dan keceriaan. Tak terasa lama juga kami mengobrol dan bersenda gurau sambil tak henti-hentinya keluarga itu menyuguhkan makanan dan minuman yang lezat sampai hari larut malam. Aku dan Shabir pun beranjak ke lantai paling atas untuk tidur.


Pagi harinya kami bangun, langsung sarapan dan segera mengelilingi Srinagar dengan skuter milik Shabir. Ia mengajakku berkeliling mulai dari melihat bekas banjir besar, pasar tradisional yang membuat aku serasa kembali ke tahun 1930, dan juga mengunjungi Masjid Raya di sana. Baik sekali pria ini. Meluangkan waktunya untukku yang baru saja dikenal dan mengantar kesana kemari. Setelah puas mengitari berbagai sudut Srinagar, Shabir mengajakku untuk memancing di house boat. Sebelumnya, kami membeli 2 ekor ayam yang akan dimasak oleh mama mertuanya yang terkenal enak masak chicken curry-nya.






Alhasil, kami menunggu masakannya dengan memancing di pinggir houseboat. Sepertinya kami belum beruntung hari ini. Bahkan sampai makanan siap untuk disajikan, kami tak mendapat seekor ikan pun. Tapi semua itu tergantikan saat aku melahap chicken curry terenak yang pernah aku makan seumur hidupku. Saking enaknya aku sampai nambah dua kali tanpa rasa malu hahaha...

Di malam harinya, kami bercerita tentang hobi masing-masing, juga tentang Shabir dan temannya yang berkeinginan untuk mengunjungi Indonesia. Aku pun dengan bangga menceritakan keindahan Indonesia dengan kekayaan alam dan budayanya. Mereka sangat tertarik untuk datang dan berjanji akan menghubungiku jika datang ke Indonesia. Anyway... time to sleep in houseboat.


Bangun di pagi hari yang beku, aku membuka pintu depan houseboat. Ahhh.... kuhirup udara segar ini walaupun dingin. Shabir dan temannya belum juga bangun, aku pun membangunkannya dan pamit ke rumah Shakeel karena ada janji untuk membeli beberapa pashmina buat mamaku sebelum kembali ke Delhi.


Aku ingin membelinya langsung di tempat mereka membuat, bukan di toko-toko komersil. Tentu saja dengan kualitas lebih bagus dan harga lebih murah. Shabir dan temannya mengizinkanku untuk pergi. Menyeberang ke sisi danau Dal lainnya, aku pun menemui Shakeel yang sudah siap dengan sampannya. Kami langsung menuju tempat pengrajin pashmina yang juga teman baik Shakeel.

Setelah tiga puluh menit mendayung sampan, akhirnya kami sampai di tempat pengrajin dan disambut hangat, disuguhkan teh khas Kashmir dan selimut. Wah... semua orang di sini baik sekali. Sambil minum teh, mereka memperlihatkan beberapa jenis pashmina dari yang paling murah sampai yang paling mahal, tentunya dengan kualitas terbaik yang mereka miliki. Pengrajin tersebut dengan sabar memberikan informasi kepadaku tentang semua jenis pashmina. Di sinilah perbedaan antara penjual pashmina di Kashmir dengan kota lainnya. Di tempat lain, mereka membuat kita “terpaksa” membeli pashmina, serta tidak ada jaminan, apakah pashmina itu asli atau palsu. Sedangkan di Kashmir mereka dengan senang hati menginformasikan kepada kita, terlepas dari kita akan membeli atau tidak.


Di sinilah aku mendapat masalah, sudah hampir satu jam aku memilih pashmina sambil BBM-an dengan mama dan tanteku, belum juga ada keputusan pashmina yang akan dipilih. Apalagi sinyal HP pun hilang timbul disini.



Pengrajin ini melihat masalah yang aku hadapi, dan dengan spontan ia mengatakan, “Kamu pilih saja yang mama dan tantemu mau, terserah bawa aja 10 atau 20 buah, nanti sampai Jakarta saja kamu kirim uangnya.”

Spontan aku jawab, “Wah jangan Pak, aku tidak punya uang sebanyak itu, trus bagaimana kalau nanti aku kabur?”

Pengrajin itu hanya tersenyum dan menjawab, “Aku percaya sama kamu, kalau kamu membawa kabur 20 buah pashminaku, Allah akan ganti dengan 2000 buah pashmina.”

Sejenak aku terdiam. Entah apa yang ada dipikiran orang-orang ini, baik sekali seperti malaikat. Bagaimana bisa mereka punya cara berpikir seperti itu. Atau mungkin otakku terkontaminasi kehidupan Jakarta yang semrawut. Akhirnya mama dan tanteku memutuskan membeli beberapa potong pashmina dan aku segera membayarnya karena waktu sudah jam enam sore.

Sebelum aku naik ke sampan bersama Shakeel, sang pengrajin memanggilku lagi dan berkata, “Hey, you! Do you like this colour?” dengan menunjukkan sepotong pashmina bercorak abu-abu coklat.

“That’s the nice one.”

“So this one is a gift for you, next time bring your family here and we’ll have a good time again,” sambung sang pengrajin.

“I would, Sir!” jawabku.

Sampai malam di rumah Shakeel, aku langsung packing karena besok akan kembali ke Delhi. Setelah packing, rasanya backpack-ku seperti hampir meletus karena banyaknya titipan. Kami pergi makan malam untuk terakhir kalinya di restoran milik Shabir. Kami makan dengan lahap. Aku berpamitan dengan semua teman dan keluarga yang sudah menerima aku dengan baik selama di Kashmir. Ada perasaan haru meninggalkan tanah ini. Terlebih besok pagi jam 8 aku akan naik bus ke Delhi.

“I will miss you all!” kataku kepada mereka semua.

Kami pun kembali ke rumah Shakeel untuk istirahat, karena besok akan menempuh perjalanan panjang dan medan yang cukup berat. Good night Shakeel...

Selepas bangun di pagi hari, Shakeel mengantarkanku ke samping J&K BANK. Disana bus yang akan aku naiki sudah bersiap. Shakeel pun langsung memastikan tempat dudukku dan meminta nomor handphone sang pengemudi untuk memastikan bahwa aku aman sepanjang perjalanan. Dan tibalah saat keberangkatan. Aku pun berpamitan dengan Shakeel.


“Thanks a lot for all of this, my good friend. I hope that I will be able to come back here soon and have a good time with you again.”

“Me too. And safe flight to Jakarta,” katanya.

Oh my God... ”Srinagar I’m in Love.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar